Tempat Berita Terbaru

Selasa, 06 Februari 2018

Belajar Kejujuran Dari Rachmat Saleh

Belajar Kejujuran Dari Rachmat Saleh

Rachmat Saleh adalah Gubernur Bank Indonesia (BI) pada tahun 1973-1983. Tidak hanya itu, Rachmat juga merupakan Menteri Perdagangan pada era Orde Baru, yakni pada tahun 1983-1988.

Namun demikian, ada hal-hal besar yang patut diingat dan dapat dipelajari dari sosok Rachmat, lebih dari sekadar jabatan yang pernah dipegangnya tersebut. Rachmat dikenal sebagai bankir, pejabat, negarawan, dan tokoh inspiratif yang penuh dengan integritas dan kejujuran.

Bahkan, banyak pihak yang memandang bahwa kejujuran dan integritas, serta nasionalisme Rachmat berada di atas rata-rata orang Indonesia lainnya. Hal ini yang menjadi fokus utama dalam buku biografi "Legacy Legenda Kejujuran Rachmat Saleh" yang ditulis oleh Syafrizal Dahlan dan kawan-kawan.

"Pak Rachmat bekerja bukan untuk pencitraan, tapi untuk melakukan yang terbaik bagi bangsa dan negara ini," kata Syafrizal dalam diskusi bukunya tersebut di Jakarta

Syafrizal menuturkan, Rachmat berhasil menjadikan BI sejajar dengan bank sentral di negara-negara maju. Yang dilakukannya adalah dengan menyiapkan sumber daya manusia yang unggul dan komprehensif.
Syafrizal mengungkapkan pula, dalam proses perekrutan dan pendidikan pegawai BI, ditanamkan 5 sikap hidup pegawai BI. Kelima hal itu adalah cinta negara, cinta UUD 1945 dan Pancasila, kejujuran, kebersamaan, serta senang menambah dan berbagai ilmu.
Semasa menjabat Gubernur BI, Rachmat pun sukses melunasi utang-utang Indonesia era Orde Lama yang jumlahnya mencapai miliaran dollar AS.

Yang menarik, Rachmat berhasil menjadikan Indonesia sebagai satu-satunya negara yang berhasil menyelesaikan utang luar negeri dengan kondisi yang paling murah dan mudah.
"Kredit utang Orde Lama direstrukturisasi dalam jangka waktu 30 tahun. Ini beda dengan negara-negara lain yang waktu dirundingkan utangnya setahun-setahun," terang Syafrizal.
Di samping itu, Rachmat pun berhasil menyelesaikan utang-utang Pertamina. Tidak selesai sampai di situ, ketika menjabat Mendag, Rachmat juga menciptakan beragam gebrakan yang membuat Indonesia berhasil maju.
Rachmat, imbuh Syafrizal, berhasil menaikkan ekspor Indonesia hingga dua kali lipat. Caranya adalah dengan melakukan beragam reformasi kebijakan, termasuk melahirkan terbitnya Inpres Nomor 4 Tahun 1985, yang salah satunya mendorong perbaikan pelayanan di pelabuhan.

Di bidang perbankan, Rachmat juga merupakan otak di balik berdirinya LPPI alias Lembaga Pendidikan Perbankan Indonesia (LPPI). Syafrizal mengungkapkan, LPPI dipandang sebagai Kawah Candra Dimuka bagi kalangan bankir.
"Banyak bankir top Indonesia lahir dari LPPI. Alumninya lebih dari 100.000 orang, hampir semua bankir pasti mengalami pendidikan di LPPI," ujar Rachmat.
Di balik semua keberhasilan dan gebrakan yang dibuatnya, Rachmat bukan orang yang haus hormat. Ia adalah orang yang sangat sederhana, jujur, dan penuh integritas.
Syafrizal menuturkan, Rachmat tidak meninggalkan harta melimpah bagi istri dan anaknya. Rumahnya terbilang sederhana untuk orang yang pernah menjadi pejabat tinggi dan penting di negara ini, pun mobilnya hanya Isuzu Panther keluaran tahun 2000.
Kepada keluarganya, termasuk anak-anak dan menantunya, Rachmat selalu berpesan untuk tidak melakukan korupsi sedikitpun. Ia pun menanamkan sikap disiplin dan mengharga orang lain.
"Saya pribadi sangat kagum. Pak Rachmat satu dari sedikit pejabat yang terhindar dari godaan 3 Ta, tidak gila harta, wanita, dan tidak gila tahta. Integritas dan kejujurannya luar biasa," ujar Syafrizal.
Share:

0 komentar:

Posting Komentar